Sore itu ayam goreng sudah berada di tirisan dengan aromanya yang sedap, namun keadaan masih tetap sunyi. Tidak ada suara Ahmad -putraku yang baru masuk SD 3 bulan lalu- yang siap dengan piring dan sendoknya disampingku dengan senyumnya yang lugu merajuk minta 2 potong ayam goreng kesukaannya.
“Hari ini benar2 tidak biasa.” Gumamku dalam hati sambil mencarinya di dalam rumah.
Lalu kutemukan sosoknya sedang asyik di depan televisi dengan memeluk bantal yang hampir sama besar dengan tubuh mungilnya. Kulihat di layar televisi ada sesosok bapak tua berjenggot panjang, memakai peci dan baju koko putih dikawal dengan puluhan aparat kepolisian bertubuh kekar dan gagah untuk digiring ke pengadilan. Bapak itu terlihat tenang, berbeda dengan rombongan aparat yang mengelilinginya yang seolah takut bapak tua itu akan melakukan perlawanan. Ahmadku sedang menonton tayangan berita.
“Lagi nonton apa, Sayang? Asyik banget sampe ayam goreng umi dicuekin..” Aku duduk di sebelahnya sambil ikut menonton.
“Umi, Ahmad ingin jadi ustas.” Aku menangkap kesungguhan di binar matanya yang jernih. Ekspresinya sama saat menanti ayam goreng diangkat dari wajan.
“Ustadz kah?”
“Eh, iya ding Mi. Heheee.. Pokonya yang suka berdakwah itu looo… ” Ahmad menjelaskan.
Aku tersenyum setengah kaget. “Subhanallaah, indah sekali cita-cita abang.” Ujarku bangga. Ada keharuan merasuk hatiku, anak yang belum genap berusia 8 tahun telah memiliki cita-cita semulia itu.
“Apa yang membuat Abang ingin menjadi ustazd? Ingin bisa main sinetron yaaa…. Xixixiii… ” Candaku sambil mencubit pipinya yang mirip bakpaw.
“Iiiih, Umiiiii… Bukan kayak gituuu…” Jawabnya tidak setuju.
“Iyaa, umi kan cuma bercanda.. Hehee… Trus apa dong alasan abang ingin jadi ustadz? Cerita dong ama Umi…” Aku mendekatkan diri ke tempat duduknya.
“Umi lucu dehh.. Masak mau main sinetronn.. Hehee… Ahmad ingin jadi ustadz yang terus berdakwah meskipun difitnah, meskipun dipenjara, meskipun dipukul-pukul.. Ahmad ingin tetap menyampaikan kebenaran islam kepada orang lain, Mi. Seperti Rasulullah dan para sahabat yang sering Umi ceritakan ke Ahmad ituu.. Subhanallah.. Ahmad ingin dikumpulkan bersama mereka di surga, Mi.” Ceritanya dengan semangat.
“Allahu Akbar.” Aku tersenyum. Aku menyeru dalam hati.
“Sini peluk umi.” Aku membentangkan tanganku, dan putraku menghambur di pelukanku.
“Amiin..Semoga cita-citamu di dengar oleh Allah.” Bisikku lembut.
“Amiin.. Umi dukung dan doakan ahmad yaa…” Ujarnya polos. Seolah tahu betapa sulitnya berada di jalan itu.
“Insya Allah yaa Abdullah..” Jawabku lirih.
“Ya Allah.. Kabulkanlah doa-doa anakku. Rahmatilah ia. Ridhoilah kami.” Ujarku dalam hati. Tanpa sadar air mata menetes dari kedua mataku. Aku mempererat dekapanku.
Anakku jundillah kecil. Muhammad Al Hafidz.
Insya Allah.
