hati

Hati yang Bolong – Bolong

Ada yang mengungkapkan jika hati itu ibarat papan. Yang bisa berlubang jika pemilik hati itu mengobral hatinya untuk mencintai sesuatu yang tidak semestinya (baca:tidak halal). Kenapa bisa berlubang? Iya bisa. Berlubang oleh paku-paku kenangan.

Misal ada sepasang kekasih (belum menikah) yang sudah menjalin hubungan beberapa lama. Pada suatu saat hubungan itu putus di tengah jalan. Mereka berpisah. Pastilah mereka ingin mencari pasangan pengganti, karena itu adalah naluri fitrah manusia yang tidak bisa dihilangkan. Jika memilih untuk mengambil jalan pacaran lagi, pasti hatinya sudah terlubangi oleh kenangan dari si mantan. Begitulah seterusnya hati akan bertambah lubangnya seiring berapa banyak orang yang pernah ‘mampir’ sebagai kekasih. Seperti apapun kita berusaha untuk menambal lubang itu, tidak akan pernah bisa hilang dengan tidak meninggalkan bekas. Dengan hati yang berlubang nanti pasti muncul perasaan membandingkan dengan si mantan itu tadi. Lebih parah, terkadang perasaan dengan si mantan itu bisa bangkit lagi, gelisah jadinya. Hubungan yang sangat rawan dengan percekcokan. Pertanyaanya, akankah pasangan sah (suami/istri) kita, kita persembahkan hati yang sudah bolong-bolong atau bahkan sudah koyak?

Begitulah lemahnya perasaan manusia. Sangat lemah bahkan. Naluri untuk melestarikan jenis pun sangat kuat pada diri manusia. Ditambah lagi rangsangan-rangsangan yang sering dimunculkan di layar televisi, di jalan, di internet. Mudah sekali merangsang naluri fitrah itu. menghela napas. Tidak mungkin kita menyalahkan naluri yang sifatnya fitrah dalam setiap diri manusia. Karena naluri itu tidak pernah bisa dihilangkan, namun sangat bisa diatur. Tinggal aturan apa yang akan kita ambil. Aturan manusia, atau aturan Allah Sang Pencipta.

The Great Creator tidak membiarkan kita terombang ambing dalam perasaan itu. Karena Allah telah menciptakan aturan yang sempurna di dalam Al-Quran dan As-Sunnah. Syariah telah mengatur bagaimana batasan interaksi dengan lawan jenis dengan cara yang sangat indah. Karena syariat ini sangat menjaga agar perasaan kita yang sangat rapuh tidak terpaut dengan sesuatu yang juga rapuh. Dan ketenangan batin pasti akan kita peroleh jika syariah diterapkan secara menyeluruh, karena dengan begitu kita hanya menyandarkan perasaan cinta pada Allah yang Maha Kekal Abadi. Bukan semata2 mengikuti perasaan hati yang sangat mudah ditiupkan was-was oleh syaithon.

Kadang ada suara di benak kita “Kalau gak pacaran, bagaimana kita kenal calon pasangan hidup kita?” ada lagi “Pacaran kan bisa untuk motivasi kuliah!!”
Kenyataannya, pacaran juga tidak menjamin langgengnya hubungan pernikahan. Kenyataannya, banyak yang pacaran malah sering bolos kuliah karena jalan2 bareng pacarnya.

Ada yang sudah berniat nikah, ada suara di benaknya “Haduh, penghasilan masih sedikit,belum berani nikah. pacaran dulu ajaa…” ada lagi “Jangan nikah duluu, selesaikan dulu kuliahnya, biar tidak mengganggu belajar”
Kenyataanya, banyak yang sudah kerja dan berpenghasilan cukup banyak, tidak menyegerakan pernikahannya. Kenyataannya, banyak yang tidak nikah saat kuliah nilai kuliahnya juga gak bagus2 amat.

Itulah syaithon, dia tidak pernah rela manusia mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Syaithon ingin hati kita bolong. Allah Berfirman :

“… yaitu setan-setan manusia (al-insi) dan jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu.” (QS Al-An’aam [6]: 112)

Dengan perasaan yang bersandar pada Allah, akan muncul perasaan cinta karena Allah. Mencintai apapun yang dicintai Allah, mencintai apapun yang telah diperintahkan Allah, mencintai yang berhak dicintai dengan hanya mengharap pertemuan dengan Allah sebagai balasannya. Cinta yang suci. Cinta yang hakiki. Bukan hawa nafsu yang mengatasnamakan cinta.

Pilihan ada di tangan kita. Apakah kita akan menjaga hati kita dengan syariah Allah, ataukah membiarkan hati kita dibolongi lebih banyak oleh syaithon? Ingatlah firman Allah :

“Maka apakah orang yang berpegang pada keterangan yang datang dari Rabbnya sama dengan orang yang (shaitan) menjadikan dia memandang baik perbuatannya yang buruk itu dan mengikuti hawa nafsunya?”(QS Muhammad[47]: 14)

“Apakah hukum jahiliah yang mereka kehendaki dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (Al-Maidah[5]: 50)

Bagi yang hatinya udah ada bolongnya, jangan khawatir dan jangan bersedih hati. Allah juga berfirman :

“Kemudian, sesungguhnya Tuhanmu (mengampuni) bagi orang-orang yang mengerjakan kesalahan karena kebodohannya, kemudian mereka bertaubat setelah itu, dan memperbaiki ( dirinya) sesungguhnya Tuhanmu sesudah itu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nahl[16]: 119)

Mari kita menambal hati kita dengan istigfar dan taubat. Allah menyukai permintaan taubat hamba-Nya.

Ya Allah, jagalah hati kami dari was-was syaithon. Jadikanlah hati kami tenang dengan mengingat-Mu, bukan dengan yang lain. Jadikanlah kami termasuk golongan orang-orang yang mengadakan perbaikan. Terimalah taubat kami. Bimbinglah kami ke jalan-Mu. Sungguh Engkau Maha Menerima Taubat. Aamiin yaa Mujiibas Sailiin.

Akhir kata,
Jika ada kebenaran dalam tulisan ini, itu datangnya dari Allah, Jika banyak yang salah, itu semata2 karena kefakiran saya. Semoga tulisan ini bisa menjadi pengingat bagi saya dan bagi siapapun yang membacanya.

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s